KharismaGus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi.
KesaktianGus Maksum sudah sangat masyhur pada zamannya dan tidak diragukan lagi. Gus Maksum juga sering memberikan ijazah-ijzah kepada para santri dan juga jamaahnya. Sebagaimana dikutip kanal You Tube ENSIKOPEDIA DOA. Gus Maksum Lirboyo memberikan ijazah amalan ilmu kebal untuk menjaga diri dari serangan
Yangumum diketahui, surat Al-Fatihah merupakan ”mahkota tuntunan Ilahi”. Dia adalah umm al-kitab atau induk Alquran. Muhammad Abduh mengurai lima pokok kandungan Alquran yang tersurat dalam Al-Fatihah, yaitu: (1) tauhid; (2) janji dan ancaman; (3) ibadah yang menghidupkan tauhid; (4) penjelasan tentang jalan kebahagiaan dan cara mencapainya di
KaromahSyekh Siti Jenar Punya Ilmu Kebal Bagian Luar dan Organ Dalam, Seketika Kulit Keras dan Kebal. Kisah Karomah Gus Maksum Jauhari atau Kyai Haji Maksum Jauhari, Memiliki Keistimewaan Sejak Kecil 4 Agustus 2022, 16:40 WIB. Cara Mudah Mengecilkan Paha, Betis, dan Perut ala dr. Zaidul Akbar hanya dengan Melakukan Ini!
riyadhohayat kursi, khodam ayat kursi,ilmu hikmah, membaca garis tangan, sholat taubat, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, buku the secret, riyadhoh, ilmu terawangan, doa ayat kursi, houtman zainal arifin, ilmu pengobatan, riyadhoh yusuf mansur, cara mengamalkan ayat kursi, keajaiban ayat kursi, gus maksum, cara riyadhoh ayat kursi
p4k2G3. Oleh Soe Narwoto Pada sebuah siang bulan September 1994, saya bertandang di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Menemui KH Maksum Jauhari, salah seorang kiai “dukdeng” dari pemimpin pondok ini. Saya sowan ke Gus Maksum, begitu sapaan KH Maksum Jauhari, bukan untuk berguru kanuragan atau nyantri. Saya menemui Gus Maksum, ketua Pagar Nusa perguruan pencak silat NU itu untuk sebuah tugas liputan. Wawancara tentang sejarah pemberontakan PKI Tahun 1965 yang dikenal dengan Gerakan 30 September G-30-S PKI. Koran tempat saya bekerja, dulu hampir setiap tahun pada awal berdirinya, menjelang tanggal 30 September selalu menurunkan liputan tentang sejarah kekejian PKI 1965. Entah sekarang? Mengangkat isu sejarah kelam itu semangatnya; mengingatkan kepada generasi penerus bangsa –khususnya umat muslim– untuk tidak terlena dengan bahaya laten PKI. Partainya memang sudah dibubarkan, tapi fahamnya hingga kini masih tumbuh dengan berbagai rupa di negeri ini. Pemberontakan 1965 yang bertujuan mengubah Pancasila dengan Komunis itu, menurut sejarahnya, yang paling banyak dibantai PKI adalah para kiai dan tokoh Islam. Gus Maksum adalah salah satu kiai yang menjadi korban PKI. Semasih mudanya dia sudah menjadi kiai pilih tanding. Punya karomah dengan memiliki ilmu kebal. Tidak mempan dibacok dan ditembak. “Dukdeng” begitu orang Jawa menyebutnya. Karena itu dia selamat dari pembantaian PKI. Wawancara saya lakukan di rumah kediaman Gus Maksum, yang berada di depan luar Pondok Lirboyo. Persisnya di depan pondok sisi pintu bagian timur. Sebelum bertemu dengannya, saya terlebih dahulu sholat dzuhur di masjid pondok. Apalagi saat saya datang, Gus Maksum masih di masjid. Setelah sholat dzuhur, saya kembali lagi ke rumah Gus Maksum. Menunggu Gus Maksum turun dari masjid. Selain terkenal dukdeng, Gus Maksum berpenampilan nyentrik. Orangnya berperawakan tinggi besar, rambutnya gondrong, dan selalu bersarung dengan kupluk putih haji. Dia juga suka memelihara binatang-binatang langka. Saya melihat di halaman rumah itu penuh kandang binatang seperti trenggiling, ular, dan semacamnya. Namun, yang paling disuka adalah lutung. Gus Maksum sering membawa lutung itu jalan-jalan di sekitar rumahnya dan pondok. Kalau sudah begini dia terlihat seperti “Pendekar dari Goa Hantu”. Menyeramkan. Saya tiba-tiba ndredek sebelum bertemu dengan Gus Maksum. Entah. Mungkin tercekat dengan karomah yang dimiliki itu dan karismanya. Dia memang seorang kiai yang amat disegani dan dukdeng. Saya khawatir dia tidak mau ditemui untuk saya wawancarai. Tapi, dugaan saya keliru. Gus Maksum ternyata sangat ramah dan menghargai tamunya saya yang sudah cukup lama menunggunya. Tidak angker seperti rautnya. “Tamunya sudah diberi makan. Mas wartawan ini tolong disiapkan makan siang,” pinta Gus Maksum kepada cantriknya setelah menemui saya. Cantrik adalah santri yang mengabdi di rumahnya. Tak begitu lama suguhan makan sudah siap dipersiapkan. “Manggo mas, dahar dulu,” ajak Gus Maksum kepada saya. Saya pun segera memenuhi permintaannya. Kebetulan perut sudah lapar. Setelah saya mengambil sajian makan siang Gus Maksum kemudian mengikuti. “Waduh niki kula ndisiki waduh ini saya mendahului,” ujar saya dengan rasa sungkan. “Mboten napa-napa, tamu kan wajib dihormati. Kedah didisikaken. Napa malih niki tamune wartawan,” kelakarnya dengan tersenyum teduh. Hati saya senang sekaligus bangga dengan Gus Maksum. Senang karena bisa bertemu dengannya. Setidaknya, bisa memenuhi wasiat ibu saya yang memerintahkan saya untuk suka mendekati kiai. Biar hidup beragama dan penuh berkah. Wasiat ini dilontarkan ketika saya mbanggel, menolak nyantri di Pondok Langitan dan lari ke Madiun untuk melanjutkan sekolah umum setelah lulus SD. Padahal, tradisi orang tua di Tuban saat itu sangat senang dan bangga jika anaknya nyantri, apalagi di Pondok Langitan. Lebih bangga lagi bertemu dengan Gus Maksum karena disambut dengan penuh keramahan. Diajak makan berdua dengan sesekali dihiasi guyonan khas kiai NU. Setelah makan, Gus Maksum pun menyilakan apa yang saya butuhkan. Wawancara tentang kisahnya yang lolos dari pembantaian PKI pada tahun 1965. Aksi itu, katanya, terjadi ketika dia baru selesai sholat Isyak di Masjid Desa Kanigoro Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. “Saat turun dari masjid itu ada belasan pemuda PKI yang mencegat saya dan langsung menyerang. Membacok tubuh saya. Tapi sabetan pedang dan clurit itu tidak mempan. Melihat ini gerombolan pemuda PKI itu berlarian,” ujar Gus Maksum. Sejak itulah para pemuda NU berguru silat dan ilmu kekebalan kepada Gus Maksum, yang kemudian menjadi cikal bakal dari Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa. “Jenengan niki wartawan, kedahe nggih gadah ilmu kanuragan. Nek ngersake kula paringi amalane,” kata Gus Maksum. Tapi, tawaran Gus Maksum itu saya tolak dengan halus. Biar tak menyinggung niat baiknya. Dan, saya takut kalau memiliki ilmu kekebalan itu nantinya malah menjadi sombong. Adigang adigung, bisa malah banyak musuh. Saya tidak suka itu. “Mas wartawan, sampean ini gimana sih. Ditawari ilmu kekebalan Gus Maksum kok ditolak. Padahal, banyak lho santri dan pemuda datang meminta-minta ilmu kekebalan itu jarang diberi oleh Gus Maksum. Lha jenengan ini diberi kok malah ditolak. Aneh,” ucap cantrik Gus Maksum ketika saya hendak meninggalkan pondok. Kini, ketika ada riuh muncul isu PKI jadi ingat almarhum Gus Maksum. Khususon kagem almarhum, Alfatehah…*
KEDIRI – Kiai Haji Maksum Jauhari adalah legenda di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Selain mengajar ilmu agama, Gus Maksum juga dikenal sebagai pendekar pilih tanding di tanah air. Meski jasadnya telah wafat pada tanggal 21 Januari 2003 silam, nama Gus Maksum masih disebut banyak orang hingga sekarang. Gus Maksum adalah ikon kejayaan ilmu bela diri santri Pondok Pesantren Lirboyo. Ajang pertarungan silat Pencak Dor menjadi salah satu monumen kenangan yang ditinggalkan Gus Maksum semasa hidupnya. Gus Maksum adalah putra dari Kiai Haji Abdullah Jauhari di Kanigoro Kediri. Usai menyelesaikan pendidikan dasar di SD Kanigoro, Gus Maksum melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo. Selebihnya sisa masa mudanya dihabiskan untuk berkeliling dari kota ke kota mencari ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan, dan kejadukan. Salah satu tempat yang menjadi jujukan Gus Maksum belajar ilmu silat adalah Ahmad Fathoni, seorang pendekar di Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat, yang beraliran Cikaret dan Cikalong. Di luar itu, Gus Maksum juga berburu ilmu kepada sejumlah kiai di Kediri, Blitar, dan Cirebon. baca ini Kuburan Dempul Lirboyo, Tempat Perjanjian Mbah Sholeh Dengan Jin Badrul Huda Zainal Abidin atau Gus Bidin, keponakan Gus Maksum yang disebut-sebut mewarisi ilmu silat pamannya, menyebut jika Gus Maksum adalah pendekar yang tak memiliki lawan di masanya. Rambutnya yang dibiarkan gondrong menjadi ciri khas Gus Maksum hingga dijuluki pendekar si rambut api. “Konon rambut beliau bisa menjadi api,” kata Gus Bidin. Media massa nasional kala itu pernah menulis pernyataan Gus Maksum yang menantang semua dukun santet untuk menyantet dirinya. Dan beberapa santri menyebut upaya penyantetan kepada Gus Maksum selalu gagal. Segala macam ilmu hitam tak akan mempan kepada dirinya. Hingga kini Gus Bidin masih menempati rumah kediaman Gus Maksum, tepat di depan masjid lama Ponpes Lirboyo. Rumah itu tak banyak mengalami perubahan wajah selain penambahan beberapa ruang di belakang. Selain itu, keberadaan monyet-monyet yang dulu menempati halaman depan rumah Gus Maksum juga sudah tidak tampak. Penumpasan PKI Di era penumpasan Partai Komunis Indonesia di wilayah Kediri dan sekitarnya, nama Gus Maksum berada di urutan teratas. Selain membela pesantren dan Nahdlatul Ulama yang menjadi musuh idiologis PKI, Gus Maksum punya alasan khusus untuk mengangkat senjata dalam penumpasan itu. Pondok pesantren milik ayahnya di Kanigoro Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri pernah diserbu oleh massa PKI. Bahkan di masjid pondok yang tengah dipergunakan kegiatan oleh aktivis Islam yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia PPI. Kala itu mereka sedang menggelar kegiatan Mental Training Mantra di Kanigoro. baca ini Hari Pahlawan Kyai Abbas Sulap Biji Kacang Jadi Tentara Menurut Sari Emingahayu dalam Sisi Senyap Politik Bising 2007 84-86, “Kanigoro terkenal sebagai basis PKI.” Kawasan ini penghasil tebu untuk Pabrik Gula Ngadirejo. Buruh tani di sana kebanyakan berafiliasi dengan Barisan Tani Indonesia BTI. Di masa itu, gerakan dan mobilisasi partai politik makin meningkat, baik berupa kampanye maupun pawai. Suatu pagi, usai menjalankan sahur di bulan ramadan, massa PKI tiba-tiba merangsek ke sekitar Masjid KH Abdullah Jauhari. Mereka menyisir perumahan warga untuk mencari peserta PII yang menginap di rumah warga. Sebagian massa menyerbu masjid dan melempar serta menginjak-injak Al Quran. Tak hanya itu, peserta PII dan Kiai Abdullah Jauhari juga diarak menuju kantor polisi sektor. Setelah situasi reda, mereka kembali dipulangkan ke tempat asal. Perilaku massa PKI kepada ayahnya ini menjadi salah satu kemarahan Gus Maksum. Dalam peristiwa penumpasan PKI tersebut, almarhum Kiai Haji Idris Marzuki pernah menyampaikan jika kala dirinya berbagi tugas dengan Gus Maksum. Kiai Idris Marzuki bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan pondok, sedangkan Gus Maksum berperang menumpas PKI dengan dibantu TNI. Kiai Wong Cilik Meski berstatus pengasuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Gus Maksum tak pernah memutus jarak dengan masyarakat di luar pondok. Setiap hari tamunya berasal dari berbagai kalangan, mulai pejabat, politisi, hingga masyarakat biasa. Dan hebatnya, Gus Maksum tak pernah memberi perlakuan istimewa kepada tamu-tamu penting. Semua harus antri sesuai kedatangannya. Semasa hidup Gus Maksum juga tak dikenal sebagai kiai pondok. Alih-alih menjaga kewibawaan, Gus Maksum justru kerap keluyuran untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar pondok. Setiap kedatangan Gus Maksum seperti karomah bagi siapapun yang dikunjungi untuk mengadukan persoalan sehari-hari. Mulai usaha bangkrut, terlilit hutang, punya musuh, konflik rumah tangga, suami penjudi, dan lain sebagainya berkelindan di tangan Gus Maksum. Beliau juga tak segan meresmikan musholla kecil di dalam gang, meski kala itu pergaulannya sudah di jajaran elit. Kedatangan Gus Maksum selalu dieluk-elukkan masyarakat. Gus Maksum tak hanya menjadi milik pondok Lirboyo, tetapi seluruh lapisan masyarakat yang mengenalnya. Tradisi Pencak Dor Perang tanding antar sesama pesilat adalah salah satu metode pengajaran Gus Maksum kepada santrinya. Untuk menguji tingkat penguasaan jurus yang diajarkan, Gus Maksum meminta mereka untuk perang tanding. “Jadi itu semacam ujian,” kata Gus Bidin. Hingga kini tradisi perang tanding ini masih dipertahankan oleh Gus Bidin sebagai pengajar silat yang menjadi ekstrakurikuler pendidikan pondok Lirboyo. Hanya saja, ajang pencak dor saat ini tak hanya dikhususkan untuk santri, tetapi terbuka lebar untuk masyarakat umum. Semua pendekar pencak bisa naik ke atas gelanggang untuk beradu silat dan saling menjatuhkan. Satu-satunya peraturan yang dibuat penyelenggara pertandingan adalah “ di atas lawan di bawah kawan”. Artinya, tak boleh ada dendam di luar gelanggang meski sebelumnya terlibat adu jotos yang sangat keras. Itulah pencak yang diajarkan Gus Maksum. HTW
ilmu kebal gus maksum